Sunday, January 1, 2012

Pandangan Toleransi dalam Islam


Hai Manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat 49:13)


Itulah penggalan alquran yang sering diajarkan oleh kyai maupun ustadz kita, bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan berbeda. Dengan demikian, menurut ajaran Islam, meskipun manusia memiliki perbedaan-perbedaan budaya, bahasa, warna kulit, kepercayaan, dan sebagainya, sebenarnya mereka adalah satu umat. Al-Quran menyatakan:

Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya 21:92).

Jadi , perspektif ”kesatuan umat manusia” memiliki akar yang kuat dalam ajaran Al-Quran. Perspektif itu selanjutnya berkembang menjadi ”solidaritas antarmanusia” (ukhuwwah insaniyyah atau ukhuwwah basyariyyah).
Akan tetapi kenapa semua tidak menjadi satu dalam islam? Perhatikan ayat dibawah ini.

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman segala orang yang di muka bumi. Maka apakah kamu (hendak) memaksakan manusia supaya menjadi orang –orang beriman semuanya?” (QS. Yunus 10:99).

Jika Allah sendiri bersikap amat toleran terhadap segenap manusia, maka manusia pun harus bersikap toleran terhadap sesamanya. Dari itu, Islam memandang pemaksaan agama kepada orang lain adalah sikap yang keliru.

Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).

Sudah jelaslah bahwa Allah membebaskan manusia untuk menentukan cara hidupnya sendiri. Apakah dia islam atau bukan itu merupakan kebebasan untuk setiap individu.
Dari itu, tugas rasul hanya menyampaikan seruan:

Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi kitab dan kepada orang-orang yang ummi. Apakah kamu mau masuk Islam. Jika mereka masuk Islam, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran 3:20).

Intinya kita tidak diperbolehkan untuk  memaksa seseorang untuk berubah keyakinan atau pandangannya, biarkan Allah yang menunjukan jalanNYa pada hambanya. Karena hal itu lebih tulus dan langsung dari hati hambanya. Sekian, semoga bermanfaat.

Ikut andil pengembangan Majelis Ar-Raudhah dengan membeli buku
ads

Ditulis Oleh : rasit ridho Hari: 10:19 AM Kategori:

0 comments:

Post a Comment